Di musim kemarau, sepatu sekolah tertutup dipakai anak sejak berangkat pagi, berjalan ke kelas, berdiri saat upacara, hingga kadang lanjut ekskul. Karena itu, sepatu yang masih terlihat “bagus” belum tentu masih nyaman dipakai. Anak juga sering belum bisa menjelaskan apakah kakinya terasa sempit, panas, atau licin—mereka baru mengeluh ketika sudah muncul lecet atau enggan memakai sepatu.
Awal September 2026 masih ditandai kondisi panas dan kering di banyak wilayah Indonesia, meski hujan lokal tetap mungkin terjadi. Situasi ini membuat orang tua perlu lebih teliti pada kenyamanan alas kaki harian, terutama untuk aktivitas luar ruang di sekolah. (bmkg.go.id)
Gunakan lima cek berikut sebelum memutuskan sepatu sekolah anak masih layak menjadi pasangan utama selama kemarau.
1. Pastikan ruang jari cukup, bukan sekadar sepatu masih bisa dipakai
Anak usia TK dan SD tumbuh cepat. Sepatu yang bulan lalu terasa pas bisa mulai sempit tanpa terlihat jelas dari luar. Saat mencoba sepatu, minta anak berdiri tegak dengan kedua kaki menapak, lalu periksa bagian depan sepatu.
- Pastikan ada sedikit ruang di depan jari terpanjang; jangan sampai jari menekan ujung sepatu.
- Tanyakan apakah jempol atau kelingking terasa terhimpit.
- Perhatikan bila bagian atas sepatu tampak tertarik atau melebar berlebihan saat dipakai.
- Coba ajak anak berjalan beberapa langkah, bukan hanya berdiri di tempat.
Jangan sengaja memilih ukuran terlalu besar agar “awet”. Sepatu yang kebesaran dapat membuat kaki bergeser saat berjalan dan membuat anak lebih mudah tersandung. Targetnya adalah pas, dengan ruang gerak kecil yang cukup untuk jari.
2. Cek tumit: kaki perlu tertahan, tetapi tidak terjepit
Bagian tumit yang longgar membuat kaki naik-turun di dalam sepatu. Saat cuaca panas, gesekan kecil yang terjadi berulang saat berjalan atau berdiri lama dapat terasa makin mengganggu. Sebaliknya, tumit yang terlalu keras atau terlalu sempit juga dapat membuat anak cepat tidak nyaman.
Mintalah anak memakai sepatu dengan kaus kaki sekolah yang biasa digunakan. Lalu perhatikan saat ia berjalan: apakah tumit sering terangkat keluar, atau sepatunya terasa seperti mau lepas? Bila ya, cek kembali pengikatnya. Untuk sepatu bertali, ikat cukup mantap tetapi jangan sampai menekan punggung kaki. Untuk model perekat, pastikan perekat masih mencengkeram baik dan tidak mudah terbuka.
Petunjuk sederhana: bila anak terus-menerus menyeret langkah, melepas sepatu saat tiba di rumah, atau minta memakai alas kaki lain untuk jalan dekat, jangan langsung dianggap manja. Bisa jadi sepatu sudah tidak pas di bagian tumit atau depan kaki.
3. Pilih bagian atas sepatu yang tidak terlalu menahan panas
Sepatu sekolah memang sering harus mengikuti aturan warna dan model dari sekolah. Meski pilihannya terbatas, orang tua tetap dapat menilai bahan bagian atas dan konstruksinya. Untuk pemakaian harian saat kemarau, hindari sepatu yang terasa sangat pengap sejak baru dicoba beberapa menit.
Perhatikan beberapa hal berikut:
- Ada area jahitan, panel, atau desain yang memberi sirkulasi, tanpa mengabaikan ketentuan seragam sekolah.
- Lapisan dalam tidak terlalu tebal dan tidak terasa kasar saat disentuh.
- Bagian lidah sepatu serta punggung kaki tidak menekan ketika anak menekuk kaki.
- Sepatu tidak menyimpan bau lembap yang tajam setelah diangin-anginkan.
Ventilasi bukan berarti sepatu harus berlubang besar. Intinya, bagian atas dan lapisan dalam tidak membuat panas terperangkap berlebihan selama anak menjalani hari sekolah yang panjang.
4. Jadikan kaus kaki bersih sebagai pasangan harian sepatu
Sepatu yang pas tetap bisa terasa tidak nyaman bila dipakai bersama kaus kaki yang lembap, terlalu tipis, atau sudah melar. Siapkan kaus kaki bersih setiap hari sekolah, terutama bila anak punya jadwal olahraga atau ekskul setelah pelajaran selesai.
Pilih kaus kaki dengan ukuran yang sesuai agar tidak menggumpal di ujung jari atau turun ke tumit. Kaus kaki yang melorot akan menambah gesekan, sedangkan yang terlalu ketat dapat meninggalkan bekas tekan. Bila anak berkeringat banyak atau sepatu terasa lembap setelah ekskul, ganti kaus kaki sebelum pulang bila memungkinkan.
Saat menyiapkan tas malam sebelumnya, letakkan satu pasang kaus kaki cadangan di kantong kecil. Kebiasaan sederhana ini berguna ketika anak kehujanan lokal, berkeringat setelah latihan, atau tanpa sengaja menginjak genangan. BMKG juga mengingatkan bahwa peluang hujan lokal masih dapat muncul di tengah kondisi kering yang dominan. (bmkg.go.id)
5. Balik sepatu dan cek sol yang mulai keras, retak, atau licin
Sol adalah bagian yang sering terlewat karena sepatu masih tampak rapi dari atas. Padahal, anak membutuhkan pijakan yang cukup stabil untuk berjalan di koridor, lapangan, tangga, dan area sekolah yang kadang licin setelah hujan singkat.
Setiap satu atau dua minggu, balik sepatu dan lihat solnya di tempat terang. Periksa apakah:
- pola tapak mulai aus rata hingga permukaannya licin;
- sol terasa sangat keras atau kaku dibanding sebelumnya;
- ada retakan, bagian mengelupas, atau sambungan sol yang mulai terbuka;
- ujung depan atau tumit aus tidak merata sehingga langkah anak tampak miring.
Sol yang mulai licin atau retak tidak selalu harus langsung dibuang, tetapi jangan dipakai untuk hari dengan banyak kegiatan luar ruang bila pijakannya sudah meragukan. Bila kerusakan cukup besar atau sepatu membuat langkah anak tidak stabil, lebih aman menggantinya.
Sistem rotasi sederhana untuk hari sekolah dan ekskul
Rotasi tidak harus berarti membeli banyak pasang sepatu. Bila anggaran memungkinkan, gunakan sistem satu pasang utama dan satu pasang cadangan yang sesuai aturan sekolah. Pasangan cadangan berguna ketika sepatu utama lembap setelah ekskul, terkena hujan, atau perlu diistirahatkan.
| Waktu | Langkah praktis |
|---|---|
| Pagi | Pastikan sepatu kering, kaus kaki bersih, dan pengikat berfungsi baik. |
| Setelah pulang | Keluarkan sepatu dari tas atau rak tertutup, longgarkan tali atau perekat, lalu angin-anginkan di tempat teduh dengan sirkulasi udara baik. |
| Hari ekskul | Siapkan kaus kaki cadangan; gunakan sepatu cadangan bila pasangan utama masih lembap. |
| Akhir pekan | Cek ukuran, tumit, bagian dalam, dan kondisi sol bersama anak. |
Hindari membiarkan sepatu terus berada dalam tas setelah dipakai. Begitu juga, tidak perlu menjemur terlalu lama di bawah matahari terik karena panas berlebih dapat membuat beberapa bahan dan perekat lebih cepat menurun kualitasnya. Cukup angin-anginkan hingga kering sebelum dipakai kembali.
Libatkan anak dalam cek singkat
Bagi orang tua, pemeriksaan sepatu bisa selesai dalam beberapa menit. Namun, melibatkan anak membuat ia belajar mengenali sinyal dari tubuhnya sendiri. Tanyakan tiga pertanyaan sederhana: “Ada yang menekan jari?”, “Tumitnya lepas-lepas?”, dan “Kakinya terasa panas atau basah?”
Bila jawabannya sering “iya”, jangan menunggu sampai ada lecet. Atur kembali pilihan kaus kaki, gunakan pasangan cadangan yang kering, atau evaluasi apakah ukuran dan kondisi sepatunya masih sesuai. Kenyamanan kaki yang terjaga membantu anak lebih fokus menjalani pelajaran, upacara, bermain, dan ekskul sepanjang kemarau.
CTA halus: Jadikan cek sepatu sebagai bagian dari persiapan sekolah mingguan, bukan hanya saat anak sudah mengeluh. Lima menit pada akhir pekan dapat membantu Anda menentukan apakah sepatu masih nyaman dipakai atau perlu diistirahatkan.